2:48 PM

4 Alasan Mengapa Berat Badan Tak Kunjung Turun

Jamak diketahui, untuk mendapatkan berat badan ideal, adalah dengan menyeimbangkan kalori yang masuk dan energi yang keluar. Tetapi Anda merasa sudah melakukan segalanya dengan benar, lalu, mengapa bobot tubuh yang lebih itu tak kunjung hilang, atau lebih parah, makin meningkat? Kondisi tersebut perlu diwaspadai, Anda mungkin memiliki kondisi terselubung yang mensabotase upaya Anda menurunkan berat badan. Berikut adalah beberapa kondisi yang menyebabkan sulitnya membakar lemak-lemak membandel tersebut.

Kondisi Tiroid
Kelenjar tiroid didesain Sang Maha untuk meregulasi cara tubuh menggunakan energi. Tiroid yang tak aktif (hypothyroidism) mengganggu metabolisme tubuh, sama seperti aspek lain pada kesehatan Anda. Beberapa peneliti bahkan mengestimasi, bahwa sebanyak 10 persen orang dewasa memiliki kondisi ini. Hal ini umum terjadi pada wanita, dan paling banyak ditemukan pada wanita di usia 40-50 tahunan.

Mereka yang mengalami penyakit ini akan merasakan kelelahan, rambut rontok, sendi terasa ngilu, otot lemah, haid dalam jumlah banyak, mudah terserang demam, bahkan depresi. Banyak orang yang mengalami gejala awal hypothyroidism seringkali merasa "tak bersemangat" tanpa tanda-tanda sakit yang jelas. Untuk mengetahuinya, coba berkonsultasi dengan internis Anda untuk melakukan tes TSH (Thyroid-Stimulating Hormone) dan menentukan langkah selanjutnya.

Hormon Tak Seimbang
Sebanyak 1 dari 10 wanita di usia subur memiliki kecenderungan polycystic ovary syndrome (PCOS). PCOS adalah kondisi ovarium seorang wanita memproduksi sisa hormon pria. PCOS, selain menyebabkan masalah pada ovulasi dan infertilitas, bisa juga berjalan seiring resistensi terhadap insulin, mengganggu cara tubuh memproses gula darah, yang seringkali diasosiasikan dengan penyimpanan lemak berlebih, khususnya di sekitar pinggang. Jika lama tak diatasi, resistensi terhadap insulin bisa mengarah ke diabetes tipe 2.

Gejala yang dirasakan antara lain; Anda akan mengalami masa haid yang tak teratur, rambut pada tubuh yang berlebihan, jerawat, beberapa pitak di bagian kepala, kesulitan untuk hamil, dan kenaikan berat badan yang tak bisa dijelaskan. Jika gejala-gejala tersebut mulai Anda rasakan, ginekolog dan internis Anda bisa melakukan tes level hormon seks untuk ketidakseimbangan testosteron, progesteron, dan estrogen, jelas dr David Katz, direktur Yale Prevention Research Center. Kemudian tes kadar gula dalam darah, dan level insulin, atau melakukan ultrasound untuk memeriksa kista pada ovarium Anda.

Langkah pertama untuk menghadapi kondisi ini adalah dengan mengubah gaya hidup. Jika Anda sudah memiliki gaya hidup konsumsi makanan yang sehat, serta berolahraga rutin, Anda mungkin perlu melakukan hal yang lebih lagi untuk melihat hasilnya. Jika Anda memiliki resistensi insulin, Katz mengatakan, Anda bisa mencoba untuk mengurangi asupan karbohidrat dan gula buatan. Jika perubahan gaya hidup tersebut masih belum menunjukkan pengurangan berat badan, dokter mungkin akan menganjurkan obat untuk mengatasi resistensi insulin.

Asupan Makanan yang Salah
Banyak yang sudah mengerti apa yang akan terjadi ketika mengalami kondisi alergi makanan, tetapi tak banyak yang mengerti apa yang terjadi ketika terjadi intoleran terhadap makanan. Alergi makanan adalah kondisi ketika sistem imun tubuh salah mengidentifikasi makanan sebagai hal yang berbahaya dan segera melakukan respon. Namun, intoleran makanan adalah kondisi yang bisa tercetus oleh banyak hal, termasuk kekurangan enzim pencernaan tertentu, misal, intoleran terhadap laktosa, atau sensitif terhadap tambahan pada zat makanan, dan cenderung bertambah seiring waktu, jelas dr Elizabeth W. Boham, yang bekerja di The UltraWellness Center, Massachusetts. Beberapa makanan yang bisa mencetus hal ini antara lain; produk-produk susu, gluten, telur, kacang kedelai, jagung, dan kacang-kacangan, karena bisa menyebabkan retensi air dan penambahan berat badan akibat air. Diestimasikan, 1 di antara 10 orang mengalami hal ini.

Ciri-cirinya: sering merasa begah, sering banyak gas di dalam perut, diare, sembelit, dan gejala yang sepertinya tak berhubungan, seperti asma ringan, eksim, pusing, otot dan sendi linu, serta sering merasa kelelahan. Internis atau gastroenterologis bisa membantu mendiagnosa masalah ini, namun Anda harus mencoba menemukan makanan apa yang bisa mencetuskan hal ini. Misal, coba kurangi makanan yang mengandung gluten dan produk susu selama 2-3 minggu. Jika tak terlihat ada perbedaan, hindari makanan yang mengandung telur, jagung, kedelai, dan kacang-kacangan, serta hilangi makanan yang mengandung pewarna dan pengawet. Setelah beberapa minggu, secara perlahan coba masukkan kembali makanan-makanan tersebut satu per satu untuk melihat reaksinya, dan jangan lupa untuk dicatat.

Jika kondisinya cukup parah, Anda harus benar-benar menghilangkan makanan penyebab itu dari menu makanan Anda selamanya. Untuk reaksi ringan, coba suplemen probiotik harian, yang bisa memberikan bakteri yang baik pada pencernaan Anda. Fungsinya, untuk mencegah perut kembung dan retensi air pada tubuh.

Pil yang Bikin Gemuk
Penambahan berat tubuh bisa jadi merupakan akibat sampingan dari obat-obatan, seperti antidepresan, steroid, dan, tak jarang, pil KB (karena peningkatan retensi air sementara). Jika memang karena obat-obatan, Anda seharusnya bisa melihat dan merasakan peningkatan berat tubuh dalam beberapa minggu setelah Anda mencoba obat-obatan baru, meski bisa pula terlihat perubahan drastisnya setelah beberapa bulan. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan membicarakan hal ini dengan dokter Anda untuk obat alternatif. Jangan coba-coba untuk mencari obat pengganti sendiri, selalu konsultasikan dengan dokter terpercaya.KOMPAS