6:10 PM

Demi Lebah, Warga Pelihara Pohon Besar

pohon lebahPANGKAL PINANG | Warga Bangka, Provinsi Bangka Belitung, memelihara pohon besar untuk melindungi populasi lebah penghasil madu seiring maraknya penebangan pohon dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan di daerah itu.

"Saat ini, untuk mecari madu lebah sangat sulit karena lebah liar sulit mencari tempat bersarang akibat maraknya penebangan hutan liar dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit dan karet," kata Jamal, warga asal Kabupaten Bangka Barat, di Pangkal Pinang, Kamis (23/9/2010).

Dia mengatakan, pohon besar tempat lebah yang dilindungi bersarang antara lain pohon ara, pelawan, dan durian.

"Semenjak maraknya penebangan dan alih fungsi hutan, hasil madu manis dan pahit menurun drastis sehingga banyak warga yang tidak lagi mencari madu lebah di hutan," kata Jamal yang berprofesi sebagai peramu dan pedagang madu lebah.

Perlidungan dan pemeliharaan pohon besar itu, kata dia, juga merupakan upaya masyarakat dalam mendukung peraturan yang dikeluarkan pemerintah daerah tentang pelarangan menebang pohon besar.

"Kami mendukung surat pelarangan penebangan pohon hutan liar karena berdampak langsung pada kondisi cuaca yang tidak menentu dan ekonomi petani semakin menurun, khususnya petani pencari madu lebah."

"Madu lebah merupakan salah satu mata pencaharian tambahan bagi warga seiring peminatnya yang cukup banyak dan harganya cukup tinggi," ujarnya.

Dia menjelaskan, harga madu pahit Rp 120.000 per kilogram dan harga madu manis Rp 50.000 per kilogram.

"Harga madu cukup tinggi karena kurangnya persediaan madu, sementara permintaan cukup banyak dan madu yang paling diminati adalah madu jenis madu pahit karena sangat baik untuk menjaga kesehatan dan bisa digunakan sebagai obat," ujarnya.

Sementara itu, Marhabun, warga Desa Simpang Tiga Kabupaten Bangka Barat, mengatakan bahwa Bangka Barat dikenal daerah penghasil madu lebah murni yang diambil dari sarang lebah yang bergelantungan di sejumlah pohon besar di sektar kampung yang saat ini mengalami penurunan.

"Madu yang dihasilkan dari sarang lebah tersebut terdiri dari dua macam, yaitu madu ’pelawan’ yang rasanya pahit dan madu manis," katanya.

Madu pelawan, menurutnya, terasa pahit karena lebah menghisap pohon pelawan yang rasanya pahit sehingga madu lebah itu terasa pahit.

Adapun, kata Marhabun, madu manis dihasilkan dari lebah yang menghisap sejenis tanaman pada musim panen atau buah-buahan sehingga madu lebah itu terasa manis.

Menurut dia, masa panen madu lebah di desa itu hanya dua kali dalam setahun, yaitu sekitar bulan Mei untuk memanen madu lebah pelawan dan Juli untuk memanen madu lebah manis.

"Namun, warga juga sering mengalami gagal panen apabila terjadi musim hujan pada jadwal panen tersebut karena sarang lebah tidak berisi madu jika musim penghujan," katanya.

Menurut dia, hampir setiap pohon besar di desa itu menjadi tempat lebah bersarang, dan bisa menghasilkan madu.

"Dari sekian banyak pohon yang memiliki sarang lebah, ada tiga pohon besar yang disebut pohon ara memiliki sarang lebah mencapai lima hingga tujuh buah dengan ukuran minimal satu meter," katanya.

Madu yang dipanen dari satu pohon besar itu, kata dia, bisa mencapai puluhan kilogram sekali panen dan diambil ketika malam hari.

"Madu lebah hanya bisa dipanen pada malam hari, yang dilakukan oleh orang tertentu yang disebut dengan pialang," katanya. KOMPAS.com