1:30 PM

Nyamuk Modifikasi Dilepas untuk Preteli Kekuatan Nyamuk DBD

Queensland, Berbagai cara sudah dilakukan untuk memberantas nyamuk demam berdarah tapi tak satu pun yang bisa membuat jumlah nyamuk DBD itu menciut. Kini ilmuwan akan melepas nyamuk hasil modifikasi yang tidak menimbulkan penyakit yang malah bisa mencuri kekuatan nyamuk DBD.

Seperti apa nyamuk modifikasi ini?

Nyamuk modifikasi ini adalah nyamuk-nyamuk yang disuntik dengan wolbachia yaitu sejenis bakteri yang sering ditemukan pada buah dan serangga selain nyamuk.

Nah, bakteri ini sangat suka mengambil protein yang dibutuhkan oleh virus dengue sehingga tidak bisa lagi hidup di tubuh nyamuk.

Nyamuk modifikasi ini akan dilepas di komunitas nyamuk DBD yang kemudian bergabung dan 'kawin' dengan nyamuk DBD asli.

Ilmuwan telah mendesain sedemikian rupa, agar bakteri-bakteri itu mudah ditularkan ke nyamuk lain. Bahkan saat berkembang biak, bakteri akan menular pada telur-telur dan keturunan yang dihasilkan oleh nyamuk tersebut.

Jika virus tidak bisa hidup di tubuh nyamuk, maka nyamuk juga tidak bisa lagi menularkannya ke manusia. Harapannya kini adalah, nyamuk hasil modifikasi itu bisa bertahan dan beranak-pinak di habitat aslinya.

Rencana pelepasan nyamuk modifikasi untuk pertama kalinya diumumkan oleh Eliminate Dengue Project. Dengan didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation, proyek tersebut akan dimulai di wilayah sekitar Cairns, Queensland dalam waktu dekat ini.

"Diharapkan, dalam musim hujan yang akan datang kita sudah bisa mempelajari wilayah di mana bakteri wolbachia telah menginfeksi nyamuk-nyamuk penyebab

demam berdarah," ujar Scott O'Neill dari University of Queensland, dikutip dari Ninemsn, Minggu (3/10/2010).

Jika uji coba ini berhasil, Scott dan timnya berencana melanjutkan eksperimen ini di Vietnam kurang lebih 6 bulan ke depan. Sebagaimana di negara-negara tropis lainnya, masalah demam berdarah di Vietnam lebih tinggi dibandingkan Australia.

Sementara itu, di seluruh dunia penularan demam berdarah tercatat masih cukup tinggi. Sedikitnya 2,5 juta orang tertular tiap tahun, sebagian di antaranya anak-anak dan berakibat fatal misalnya kematian.