11:01 PM

Kekuatan Dzikir Melembutkan Hati Tukang Pukul Itu

borgolProbolinggo Keluar masuk penjara akibat menganiaya orang, biasa dialami Misdar Masfudi. Terakhir kali dia mendekam di penjara tahun 1995 lalu. Sekarang, pendekar silat kelahiran 1 Juli 1966 ini, sudah insyaf bahkan menjadi koordinator pengamanan tarikat Jemaah Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jaelani Kraksaan.

Sifat keras kepala yang dimiliki Misdar Masfudi seolah sudah merasuki aliran darahnya. Usai menimba ilmu kanuragan tahun 1989 lalu di Serang, Banten, pria asal Dusun Taman, Desa Sebaung, Kecamatan Gending itu tambah terlihat pongah.

Suami Ny Juanna, 40, itu kian ditakuti. Ia mengaku memiliki sekitar 90 ilmu kanuragan dari ilmu kebal bacok, tahan dibakar api, sampai pernah melakoni atraksi dikubur hidup-hidup.

Namun, ilmu kanuragan yang dimiliki tidak membuatnya tenang. Hati ayah tiga anak itu terasa kaku dan pikirannya selalu tegang. Tak pelak, tiap hari dia selalu berkelahi di kampungnya.

Bahkan, Misdar mengaku, jika sehari saja tidak memukul orang, tangannya terasa gatal. “Saya merasa seperti tidak terkalahkan. Makanya, kalau ada orang melirik saja, pasti saya tempeleng,” katanya.

Misdar menikah dengan Ny Juanna ketika dia masih berusia 16 tahun. Sejak awal pernikahan, dia mengaku hidupnya serba susah. Bahkan, hingga 20 tahun menikah dia masih hidup di bawah garis kemiskinan. “Tiap hari saya selalu makan nasi yang dikeringkan, lalu ditanak lagi,” ungkapnya.

Karena ingin lepas dari penderitaan kemiskinan, Misdar merantau ke Serang Banten tahun 1988. Tapi, bukan pekerjaan yang diperoleh. Misdar justru menimba ilmu kanuragan kepada salah satu jawara bernama Kiai Ahmad.

Di tempat itu, dia digembleng dan melakukan tirakat ilmu kanuragan. Ia berpuasa tidak makan dan tidak berbicara kepada siapa pun selama seminggu lamanya.

Setelah dua tahun, dia dinyatakan lulus menimba ilmu kanuragan. Tapi, harapan bisa memperoleh kehidupan layak dengan kesaktian yang dimiliki, tak kunjung didapat.

Justru, kesaktian membuatnya memiliki sifat kasar dan suka berkelahi. Bahkan, tahun 1990-an lalu dia kerap menerima order untuk memukul orang dengan imbalan Rp 50.000.

Pekerjaan menjadi tukang pukul itu membuatnya keluar masuk penjara. Dia kerapkali dijerat pasal penganiayaan ringan dengan hukuman kurungan sekitar tiga bulan. “Tapi, bos saya yang menjamin, sehingga hukumannya ringan,” katanya.

Terakhir, Misdar masuk penjara tahun 1995 ketika dia menjadi petugas keamanan di Pasar Sebaung Gending. Dia kerap membuat kekacauan dan memukul para pemuda yang dianggapnya kurang ajar.

Kehidupan Misdar kian tak menentu. Istri dan anak-anaknya terbengkalai. Mereka tinggal di gubuk sewaan. “Untuk makan saja, saya susah sekali,” katanya.

Namun, meski kekerasan sifat yang dimiliki membuat sengsara, Misdar belum ada keinginan mengubah tabiat kasar. Hingga tahun 2008 lalu, dia bermimpi didatangi mendiang ayahnya, Sudarso. Di dalam mimpi, Misdar mengaku diberi petunjuk supaya mengaji ke arah timur rumahnya.

Selama seminggu berturut-turut pula, Misdar bermimpi dipangku seseorang, tapi dia tidak kenal dengan orang tersebut. Karena mimpi itulah, Misdar lambat laun mengubah sifat kasarnya.

Dia menjadi pelatih Perguruan Silat Joko Tingkir di tempat tinggalnya. Lalu, karena prestasinya dia dipromosikan menjadi pelatih Perguruan Silat Pagar Nusa Kabupaten Probolinggo.

Setelah menjadi pelatih silat Pagar Nusa inilah, Misdar masuk menjadi anggota tarikat Jemaah Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jaelani Rangkang Kraksaan.

“Ternyata kiai yang datang dalam mimpi saya itu, Kiai Hafid pengasuh Jemaah Manaqib,” ungkap Misdar.

Jemaah Manaqib itu beranggotakan sekitar 30.000 orang. Kegiatannya berlangsung tiap Sabtu Pon dan selalu berpindah-pindah tempat. Setiap kegiatan berlangsung, aktivitasnya termasuk dzikir dan salat sunah berjemaah. Kekuatan dzikir itulah yang akhirnya melembutkan hati Misdar.

Setelah hampir dua tahun bergabung dengan Jamaah Manaqib, kehidupan Misdar berangsur-angsur tertata, termasuk kehidupan duniawinya. Saat ini, dia sudah dipercaya menjadi manajer CV Nur Ilahi yang merupakan salah satu rekanan sub kontraktor di PLTU Paiton. “Alhamdulillah, saya sekarang sudah punya satu mobil keluarga dan tiga mobil pick up, untuk usaha,” ujar Misdar. Atiqalirahbini Surya.co.id